Rabu, 23 Januari 2013

PENGETAHUAN TENTANG REFERENSI KARYA ILMIAH


Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika oleh Dr. Marsigit, MA.
(08 Januari 2013)
Belajar mengenai membuat karya ilmiah, maka kita harus belajar pula aturan-aturan dalam pembuatan karya ilmiah. Pada hari selasa 8 Januari 2013, kelas pendidikan matematika B mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Dan ternyata memang tidaklah mudah untuk membuat karya ilmiah, dalam memilih referensi yang akan digunakan dalam karya ilmiah. Pada hari tersebut kami diberi tiga soal sebagai ujian akhir semester, yaitu mengenai teori berpikir immanuel kant dalam pembelajaran matematika, aspek aksiologi dalam pembelajaran matematika, dan aspek menembus ruang dan waktu dalam pembelajaran matematika.
Pengetahuan mengenai aturan dalam pembuatan karya ilmiah dijelaskan pula oleh Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. Beberapa hal yang beliau sampaikan adalah terkait referensi yang digunakan dalam pembuatan karya ilmiah. Referensi yang digunakan hendaknya harus ilmiah. Sedangkan tulisan di blog atau tulisan yang tidak dipublikasikan dalam seminar maupun dalam jurnal, tidak dapat dijadikan sebagai referensi dalam pembuatan karya ilmiah.
Selain itu, tidak semua buku dapat digunakan sebagai referensi. Karena tidak semua penulis atau pengarang buku memang benar-benar menguasai apa yang mereka tulis. Ada beberapa diantara mereka yang menulis hanya karena faktor finansial semata. Oleh karena itu, tidak semua penulis atau pengarang buku dapat dijadikan sumber dalam karya ilmiah. Lalu, bagaimana cara kita memilah dan memilih buku mana yang dapat dijadikan referensi? Jawabannya adalah dengan sering membaca buku-buku, sehingga kita mengetahui bagaimana kualitas setiap buku yang kita baca.
Bagi mahasiswa S2, dalam membuat karya ilmiah, paling tidak sumber atau penulis buku yang dijadikan referensi bergelar doktor atau profesor. Bukan berarti kita terlalu menjunjung tinggi gelar yang ada, akan tetapi gelar seseorang merupakan wadah dari pengetahuan-pengetahuan serta pemikiran-pemikiran seseorang tersebut. Gelar merupakan amanah bagi seseorang untuk senantiasa meningkatkan kualitas isinya atau pengetahuan, pemikiran serta karya-karyanya.  Jadi bagi penulis atau pengarang buku yang tidak demikian, kurang kuat dan valid untuk dijadikan referensi dalam membuat karya ilmiah.
Penjelasan di atas secara tidak langsung menghimbau kepada kita agar senantiasa meningkatkan kemauan dan kualitas kita dalam membaca. Kita harus pandai-pandai memilih bacaan, karena kepribadian seseorang dapat dilihat dari bacaan apa yang di baca. Untuk tingkat s2, referensi yang digunakan dalam karya ilmiah haruslah sumber utama. Bapak Prof. Dr. Marsigit memberikan contoh, bahwa elegi-elegi  yang disering dibaca sebenarnya tidak tepat untuk dijadikan referensi ilmiah. Tetapi diperbolehkan jika untuk menambah pengetahuan dalam perkuliahan atau dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, memang tidaklah mudah untuk membuat karya ilmiah, dan begitu pula dalam memilih referensinya. Mengapa mahasiswa harus memahami hal ini? Karena gengsi mahasiswa terletak pada thesisnya, gengsi sebuah thesis terletak pada daftar pustakanya, gengsi daftar pustaka terletak pada bukunya, gengsi sebuah buku terletak pada pengarangnya, dan gengsi seorang pengarang terletak pada karya-karya ilmiahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar